Indonesia TOP
Bicara tentang pemindahan Ibukota
Negara maka kita akan berbicara tentang tempat baru, suasana baru dan pusat
pemerintahan yang baru. Tapi semoga Ibukota baru kali ini tidak diperlakukan
seperti halnya Ibukota terdahulu. Seolah-olah Indonesia hanya berada di satu
daerah saja. Semua kegiatan berpusat hanya di satu daerah yang sama, entah itu
pusat perekonomian, pusat pembangunan bahkan pusat kerusakan. Maka wajar saja
Ibukota yang sekarang kurang nyaman untuk ditinggali, bahkan masalahnya terus
menumpuk dari hari ke hari.
Sebenarnya sederhana saja, harapan untuk Ibukota baru adalah semoga bisa menerapkan
konsep TOP atau Teladan, Otak dan Pelopor. Teladan disini maksudnya adalah agar
Ibukota yang baru mampu menjadi contoh dan teladan bagi daerah lain. Yang dapat
memperbaiki evaluasi dari Ibukota terdahulu. Membangun Ibukota yang bebas polusi,
bebas kemacetan, minimum bencana. Selain itu, penduduknya kalau bisa jangan
terlalu banyak agar indeks pembangunan manusia juga bisa tersebar merata. Dengan
begitu daerah-daerah lain dapat terinspirasi oleh daerah Ibukota untuk bergerak
ke arah yang lebih baik. Selain itu, diharapkan pula agar tersedia ruang
terbuka hijau yang cukup untuk menjamin kesehatan lingkungan daerah Ibukota.
Yang kedua adalah Ibukota sebagai Otak. Ibarat tubuh, otak adalah pusat bagi
organ tubuh yang lain agar dapat bekerja. Maka Ibukota pun harus mampu menjadi
pusat bangsa Indonesia. Tentunya agar kerja maksimal, otak bangsa Indonesia
sudah semestinya hanya menjadi satu pusat dan menjalankan satu pekerjaan. Artinya
fokus sebagai pusat pemerintahan, bukan ditumpuk dengan menjadi pusat
perekonomian. Hal ini juga telah dilakukan di beberapa negara maju yang
memisahkan antara pusat pemerintahan dengan pusat perekonomiannya. Maka harapan
besar bagi Ibukota yang baru untuk dapat melakukan hal serupa. Sebagai otak
bangsa pula, maka segala perencanaan dan pengaturan negara ada di Ibukota.
Akan lebih bagus lagi apabila Ibukota yang baru dapat membuat konsep khas
di setiap daerah di Indonesia. Misalnya dibuat daerah khas kuliner Indonesia,
daerah khas wisata bahari ataupun daerah khas wisata kebudayaan Indonesia. Sehingga
dengan begitu, pembangunan daerah di Indonesia dapat lebih terencana dan lebih
terarah. Tindakan dan aksi yang perlu dilakukan akan lebih konkret. Karena
ketika sudah merencanakan konsep pembangunan daerah seperti apa, maka sudah
jelas hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk menunjang pembangunan
tersebut.
Konsep yang ketiga yaitu Pelopor. Diharapkan kepada Ibukota yang baru mampu
menjadi pelopor pembangunan bagi daerah lain. Sehingga pusat pembangunan bukan
berpusat di Ibukota. Tetapi Ibukota lah yang menjadi pusat untuk mempelopori pembangunan
bagi daerah di Indonesia. Karena Indonesia bukan hanya Jawa atau Sumatera. Tetapi
dari Sabang sampai Merauke. Misalnya ketika akan dibangun atau diterapkan
teknologi kereta cepat. Ibukota bisa saja menjadi daerah pertama yang akan
memiliki teknologi tersebut. Bisa saja menjadi daerah pertama untuk mencoba
teknologi tersebut. Tetapi sifatnya adalah sebagai pelopor, bukan anak emas
bangsa. Sehingga daerah lain pun yang memenuhi kriteria untuk diterapkannya
teknologi yang bersangkutan dapat merasakan pembangunan yang sama seperti di
daerah Ibukota.
Jadi intinya adalah bangsa Indonesia membutuhkan Ibukota yang
memang terasa seperti Ibu bagi anak-anaknya. Bukan sibuk membangun diri sendiri
tetapi terus mengayomi. Ibukota yang baru harus yang mampu terus mempererat
persatuan bangsa dan negara. Yang mampu menularkan semangat positif dari ujung
Barat hingga ujung Timur Indonesia.
#Bappenas
#IbuKotaBaru
Komentar
Posting Komentar